Paradoks Logistik Denpasar: Infrastruktur Triliunan Rupiah, Produktivitas Turun, dan Kesenjangan Talenta yang Tak Bisa Dipenuhi
Sektor logistik Denpasar menyerap belanja infrastruktur provinsi sebesar Rp 4,2 triliun antara tahun 2022 dan 2024. Dalam periode yang sama, kecepatan pengiriman rata-rata di dalam kota justru turun 12%. Kontradiksi inilah yang mendefinisikan tantangan bagi setiap distributor grosir, operator rantai dingin, dan penyedia logistik pihak ketiga (3PL) yang melayani 5,7 juta penduduk Bali serta lebih dari enam juta wisatawan per tahun.
Masalahnya bukan soal modal. Pelabuhan Benoa sedang diperluas, fasilitas cold-storage baru dibangun di Kabupaten Badung, dan volume logistik e-commerce tumbuh 14–16% per tahun. Masalah sebenarnya adalah investasi infrastruktur telah melampaui ketersediaan SDM yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya. Posisi manajer operasi rantai dingin 80% diisi oleh kandidat pasif. Insinyur refrigerasi berpengalaman sistem amonia nyaris tidak ada yang menganggur. Pencarian direktur rantai pasok regional pada 2024 berlangsung selama tujuh bulan sebelum akhirnya pemberi kerja menyerah dan merestrukturisasi peran tersebut sepenuhnya. Kapasitas fisik sedang dibangun—namun kapasitas manusianya tidak.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai kekuatan-kekuatan yang membentuk ulang perdagangan grosir dan Manufacturing Denpasar, di mana talenta untuk mengelola jaringan distribusi modern lebih langka daripada ruang pergudangan itu sendiri—serta implikasinya terhadap kompensasi, strategi rekrutmen, risiko operasional, dan langkah berbeda yang harus diambil organisasi untuk mengamankan para pemimpin yang mereka butuhkan.
Pusat Komando Distribusi Tanpa Cukup Komandan
Denpasar tidak berfungsi sebagai pusat pergudangan. Denpasar berfungsi sebagai pusat komando distribusi. Perbedaan ini sangat krusial dalam setiap keputusan rekrutmen di pasar ini.
Total ruang logistik modern bergrade A di dalam batas kota Denpasar hanya mencapai kurang dari 45.000 meter persegi pada akhir 2024, atau kurang dari 8% dari total stok logistik modern Bali menurut Laporan Industri dan Logistik Bali dari Colliers Indonesia. Fasilitas sortasi besar milik JNE Express, J&T Express, dan Lion Parcel berlokasi 15–25 kilometer dari pusat komersial—di wilayah Mengwi dan Gianyar—di mana biaya tanah 40–60% lebih rendah dibanding harga tanah Denpasar yang berkisar antara Rp 5–8 juta per meter persegi.
Staf operasional bekerja di pinggiran kota, sementara para manajer, koordinator, dan direktur rantai pasok yang menjalankan operasi tersebut berkantor di distrik komersial Denpasar. Ketimpangan spasial antara lokasi pergerakan barang dan tempat pengambilan keputusan menciptakan tantangan rekrutmen yang khas. Direktur rantai pasok berbasis di Denpasar tidak sekadar mengelola satu fasilitas. Mereka mengoordinasikan jaringan yang terfragmentasi—mulai dari pasar tradisional yang melayani 12.000 pedagang aktif, zona pergudangan di pinggiran kota, koridor feri ke Jawa yang memproses 12.000–15.000 truk per hari saat puncak, hingga sistem rantai dingin yang masih mengirimkan 60% barang beku menggunakan kendaraan non-refrigerasi di pengiriman tahap akhir.
Kompleksitas peran koordinasi ini terus meningkat—namun jumlah orang yang memenuhi syarat untuk mengisinya tidak.
Krisis Rantai Dingin di Balik Rantai Pasok Pariwisata Bali
Infrastruktur rantai dingin Bali masih tertinggal jauh dibandingkan ketergantungannya pada pasokan makanan yang sensitif terhadap suhu. Pulau ini diperkirakan memiliki 85.000–95.000 posisi pallet penyimpanan dingin, terkonsentrasi di Pelabuhan Benoa dan Kabupaten Badung, menurut penilaian kapasitas regional oleh Asosiasi Rantai Dingin Indonesia. Denpasar sendiri mengandalkan ruang dingin mikro terdistribusi berkapasitas kurang dari 100 pallet, yang dioperasikan terutama oleh distributor unggas dan seafood.
Kendala regulasi yang memperlebar kesenjangan kapasitas
Kekurangan fisik ini diperparah oleh kendala regulasi yang kerap luput dari perhatian pemberi kerja. Kebijakan ganjil-genap dan pembatasan kendaraan berat di Denpasar—yang melarang kendaraan komersial melintasi koridor utama antara pukul 07.00–21.00 berdasarkan Peraturan Dinas Perhubungan Kota Denpasar No. 12/2023—membuat pengiriman tahap akhir secara operasional sangat sulit mempertahankan integritas suhu. Survei operasional 2024 dari Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Cabang Bali menemukan bahwa sekitar 60% penyedia logistik rantai dingin menggunakan kendaraan non-refrigerasi untuk pengiriman barang beku karena keterbatasan ketersediaan kendaraan dan pembatasan jadwal akibat jendela waktu lalu lintas.
Ini bukan masalah modal. Ini adalah masalah manajemen operasional—dan membutuhkan pemimpin dengan profil yang sangat spesifik untuk menyelesaikannya.
Mengapa talenta rantai dingin bernilai tinggi namun sulit dijangkau pasar ini
Manajer Operasi Rantai Dingin di Denpasar menerima kompensasi IDR 18–28 juta per bulan di level spesialis senior. Di level eksekutif, kompensasi mencapai IDR 30–42 juta. Kandidat bersertifikasi HACCP dan berpengalaman sistem refrigerasi amonia berada di kuartil atas. Menurut penilaian Monroe Consulting Group terhadap pasar talenta logistik Indonesia 2024, 75–80% kandidat yang memenuhi syarat dalam kategori ini sedang bekerja dan tidak aktif mencari peran baru. Masa kerja rata-rata adalah 4,2 tahun. Perpindahan terjadi melalui headhunting langsung, bukan melalui lowongan pekerjaan.
Insiden pembajakan talenta pada Maret 2024 yang dilaporkan Bisnis Indonesia menggambarkan dinamika ini dengan tepat. JNE Express merekrut Manajer Operasi Rantai Dingin dari operasi Lion Parcel di Denpasar dengan kenaikan gaji pokok 35%, meningkatkan paket dari IDR 28 juta menjadi IDR 37,8 juta per bulan ditambah tunjangan perumahan. Dalam 60 hari, Lion Parcel kehilangan dua supervisor tambahan. Kehilangan satu spesialis saja berdampak domino hingga memicu krisis retensi yang lebih luas—dan biaya merekrut pengganti spesialis tersebut menetapkan lantai kompensasi baru yang kini harus dipenuhi setiap pencarian di pasar ini.
Implikasinya meluas melampaui peran rantai dingin ke setiap posisi teknis di mana Denpasar bersaing dengan Jawa untuk mendapatkan profesional yang memenuhi syarat.
Kesenjangan Kompensasi yang Menjadi Batas Atas Talenta Denpasar
Pasar talenta logistik Denpasar tidak berdiri sendiri. Pasar ini berkompetisi langsung dengan Surabaya dan Jakarta—dan perhitungan kompensasi selalu merugikan Denpasar di setiap level senior.
Surabaya menawarkan gaji pokok 25–35% lebih tinggi untuk peran setara. Seorang Direktur Rantai Pasok di Surabaya menerima sekitar IDR 45 juta per bulan; peran yang sama di Denpasar dibayar IDR 35 juta. Jakarta menarik eksekutif senior dengan premium 40–60% serta keunggulan lintasan karier dari eksposur kantor pusat regional. Makassar, yang muncul sebagai pesaing untuk posisi manajemen regional Indonesia Timur, menawarkan kompensasi setara Denpasar dengan biaya hidup lebih rendah—dan telah merekrut sekitar 8–10% manajer operasi senior Denpasar pada 2023 dan 2024, menurut data migrasi talenta regional ALI.
Penyeimbang Denpasar adalah kualitas hidup. Data LinkedIn Talent Insights tentang pola mobilitas geografis menunjukkan bahwa pasar ini mempertahankan profesional yang memiliki ikatan keluarga di Bali atau mereka yang menginginkan migrasi gaya hidup dari Jawa. Namun, kualitas hidup adalah alat retensi—bukan alat rekrutmen. Faktor ini mampu mempertahankan orang yang sudah berada di sini, tetapi tidak cukup menarik insinyur refrigerasi di Surabaya yang harus menerima potongan gaji untuk pindah, atau direktur rantai pasok di Jakarta yang mempertimbangkan perpindahan lateral yang di atas kertas justru terlihat seperti kemunduran karier.
Dinamika yang dihasilkan: kumpulan talenta Denpasar untuk peran logistik senior secara fungsional tertutup. Profesional yang sudah di sini hanya berpindah di antara segelintir perusahaan yang sama. Kandidat baru dari luar sangat jarang masuk. Dan setiap insiden pembajakan talenta dengan premium—seperti kasus JNE–Lion Parcel—menaikkan lantai kompensasi bagi semua pemberi kerja tanpa menambah satu pun kandidat ke dalam kumpulan tersebut.
Investasi Infrastruktur Melampaui Modal Manusia: Ketegangan Analitis Inti
Berikut pengamatan yang tidak terlihat dari masing-masing data secara terpisah, namun menjadi jelas ketika dikombinasikan: sektor logistik Denpasar membangun kapasitas fisik lebih cepat daripada kemampuannya mengisi posisi pengelolanya—dan akibatnya, setiap fasilitas baru, setiap ekspansi pelabuhan, dan setiap investasi cold-storage justru meningkatkan permintaan terhadap kumpulan terbatas operator yang memenuhi syarat.
Ekspansi Pelabuhan Benoa, yang diproyeksikan mencapai penyelesaian Fase 2 pada pertengahan 2026, akan meningkatkan kapasitas penanganan peti kemas dari 1,2 juta menjadi 2,3 juta TEUs per tahun menurut peta jalan pengembangan Pelindo Regional III. Dua fasilitas cold-storage berkapasitas total 15.000 pallet sedang dibangun di Kabupaten Badung. Pertumbuhan logistik e-commerce sebesar 14–16% CAGR hingga 2026, seperti diproyeksikan Redseer Strategy Consultants, akan meningkatkan permintaan terhadap pusat pemenuhan mikro perkotaan di Denpasar.
Setiap pengembangan ini membutuhkan manajer, insinyur, dan pemimpin operasi yang jumlahnya belum mencukupi di Bali saat ini. Emercold Indonesia, pengembang fasilitas cold-storage baru di Badung, tidak berhasil merekrut insinyur refrigerasi lokal yang berpengalaman sistem amonia—dan terpaksa memindahkan dua insinyur dari kantor pusatnya di Surabaya dengan jadwal rotasi tiga minggu kerja, satu minggu libur—dengan total premi biaya 60% di atas struktur gaji lokal, menurut pernyataan Direktur HR perusahaan tersebut pada Cold Chain Asia Summit Oktober 2024.
Modal bergerak lebih cepat daripada modal manusia. Infrastruktur dibangun dengan asumsi bahwa tenaga pengelolanya akan tersedia—namun kenyataannya tidak demikian. Kesenjangan antara kapasitas fisik dan talenta operasional inilah yang menjadi kendala utama pertumbuhan logistik Denpasar hingga 2026 dan seterusnya—dan jaraknya semakin melebar seiring setiap pengumuman proyek baru.
Tekanan Regulasi: Zona Emisi Rendah dan Keterampilan yang Dibutuhkannya
Lingkungan regulasi Denpasar akan segera menambah lapisan kompleksitas baru. Program percontohan Zona Emisi Rendah (Low Emission Zone/LEZ) pemerintah kota, yang dijadwalkan diperluas pada 2026, akan membatasi kendaraan komersial diesel di atas 3,5 ton dari distrik pasar pusat seperti Renon, Dauh Puri, dan koridor Teuku Umar antara pukul 06.00–18.00. Operator logistik akan menghadapi pilihan biner: beralih ke armada kendaraan listrik atau menggeser model distribusi ke operasi malam hari.
Penetrasi truk listrik komersial di Bali saat ini kurang dari 1%. Infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan berat belum berkembang. Peta Jalan Kendaraan Listrik (Peta Jalan EV) Kementerian ESDM untuk Bali, yang diterbitkan pada 2024, mengakui kesenjangan ini namun tidak menyediakan mekanisme untuk menutupnya sebelum regulasi berlaku.
Hal ini berdampak signifikan terhadap talenta karena menciptakan persyaratan keterampilan yang sama sekali baru. Profil manajer armada yang memahami rute dan perawatan truk diesel berbeda jauh dari manajer yang harus mengintegrasikan kendaraan listrik, mengelola logistik pengisian daya, dan mendesain ulang jadwal distribusi sesuai jendela waktu regulasi. Kumpulan kandidat dengan AI & Technology di Indonesia sangat terbatas. Denpasar akan bersaing dengan Jakarta, Surabaya, dan setiap kota Indonesia lainnya yang mengejar target emisi serupa untuk memperebutkan keterampilan yang sama.
Tekanan regulasi ini juga beririsan dengan masalah kemacetan yang sudah ada. Kecepatan lalu lintas rata-rata Denpasar selama jam kerja turun menjadi 18–22 km/jam di koridor distribusi utama, menurut data Waze dan Google Mobility. Operator logistik sudah menghadapi waktu tunggu rata-rata 3,5–4,2 jam per rute pengiriman—dibandingkan 2,1 jam di Surabaya berdasarkan Indeks Produktivitas Logistik Asia Tenggara dari McKinsey. Membatasi akses diesel di siang hari tanpa alternatif EV yang memadai akan semakin mempersempit jendela operasional—memusatkan lebih banyak aktivitas logistik ke dalam jam yang lebih sedikit—dan menuntut kemampuan penjadwalan yang lebih canggih dari setiap manajer operasi di pasar ini.
Perusahaan yang mulai merekrut untuk transisi ini sekarang akan memiliki keunggulan 12 bulan dibandingkan yang menunggu hingga regulasi diberlakukan.
Ketidaksesuaian Pariwisata Mengungkap Mobilitas Antar-Sektor
Sektor pariwisata Bali—pemberi kerja utama pulau ini—kehilangan sekitar 15.000 peran perhotelan akibat kompresi upah dan PHK pada 2023 dan 2024. Secara teori, hal ini seharusnya mengurangi tekanan di sektor logistik. Manajer perhotelan yang terdampak—dengan pemahaman rantai pasok, pengalaman pengadaan, dan kemampuan bahasa Inggris—semestinya menjadi kandidat yang bisa dialihkan ke peran operasi logistik.
Namun kenyataannya tidak demikian—dan alasannya sangat instruktif.
Keterampilan yang dibutuhkan operasi logistik modern—termasuk penguasaan WMS, sertifikasi rantai dingin, kepatuhan HACCP, pengetahuan standar GDP, dan manajemen gudang multi-zona suhu—adalah kualifikasi teknis yang biasanya tidak dikembangkan dalam manajemen perhotelan. Manajer pengadaan hotel memahami hubungan vendor dan negosiasi biaya, tetapi tidak menguasai sistem refrigerasi amonia atau optimisasi logistik feri antar-pulau. Jarak antara "memahami rantai pasok" dan "memenuhi syarat mengelola operasi distribusi grosir dan logistik modern" lebih lebar dari yang terlihat dari luar.
Perbedaan kompensasi memperparah masalah ini. Direktur rantai pasok yang melayani sektor logistik pariwisata di Denpasar menerima premi 15–20% dibandingkan peran setara di logistik ritel. Namun premi ini hanya berlaku bagi mereka yang menguasai kombinasi keahlian logistik dan pengetahuan industri perhotelan. Kandidat dari perhotelan yang tidak memiliki kualifikasi logistik tidak bisa mengakses peran premi ini. Kandidat dari logistik yang tidak memiliki pengetahuan sektor perhotelan tidak bisa menuntut premi tersebut. Irisan kedua kompetensi itu sangat sempit.
Hal ini menghasilkan rasio kandidat pasif sebesar 85% untuk direktur rantai pasok sektor pariwisata—angka tertinggi di antara semua kategori peran di pasar ini menurut wawasan talenta rantai pasok Michael Page Indonesia kuartal IV 2024. Kandidat-kandidat ini tidak sedang mencari pekerjaan. Mereka sudah mapan di jaringan hotel internasional dengan paket retensi yang kuat. Memindahkan mereka membutuhkan lebih dari sekadar gaji kompetitif—diperlukan proposisi peran yang tidak bisa mereka replikasi di organisasi saat ini, disampaikan secara langsung—karena mereka tidak akan pernah melihat lowongan pekerjaan.com/id/article-executive-recruiting-failures).
Yang Harus Dilakukan Berbeda oleh Pemimpin Rekrutmen di Pasar Ini
Pendekatan rekrutmen konvensional di sektor logistik Denpasar—memasang lowongan di JobStreet, menyaring pelamar masuk, lalu memilih dari siapa pun yang melamar—hanya menjangkau maksimal 20–25% kandidat yang memenuhi syarat untuk peran operasional, dan kurang dari 15% untuk posisi senior rantai pasok dan rantai dingin. Datanya tidak ambigu: dari setiap sepuluh Manajer Operasi Rantai Dingin yang memenuhi syarat di Denpasar, delapan adalah kandidat pasif. Untuk insinyur refrigerasi, tingkat pengangguran hampir nol.
counter-offer dari pesaingcom/id/article-counteroffer-trap) dengan premium 40–45%—menunjukkan apa yang terjadi ketika proses pencarian terlalu lambat untuk pasar ini. Pada saat daftar pendek kandidat selesai disusun, kandidat sudah menerima tawaran dari pihak lain. Pemberi kerja akhirnya merestrukturisasi peran tersebut daripada melanjutkan pencarian.
Kecepatan penting. Namun kecepatan tanpa ketepatan menghasilkan kegagalan yang berbeda: perekrutan yang keluar dalam waktu kurang dari satu tahun—memicu pencarian ulang dengan biaya lebih tinggi. Masa kerja rata-rata 11 bulan untuk supervisor pengiriman tahap akhir menggambarkan masalah di sisi volume. Di sisi senior, biayanya diukur secara berbeda—dalam hitungan bulan ketika fasilitas cold-storage beroperasi tanpa pemimpin operasi yang memenuhi syarat, atau kuartal-kuartal ketika percepatan ekspansi pelabuhan terhambat karena posisi direktur logistik tetap kosong.
metodologi headhunting langsungcom/id/headhunting) bukanlah layanan premium. Ini adalah satu-satunya metode yang menjangkau kandidat penentu hasil operasional. Pendekatan Talent Pipeline berbasis AI KiTalent menghadirkan kandidat eksekutif siap wawancara dalam 7–10 hari, dengan mengidentifikasi secara sistematis para profesional pasif yang tidak akan pernah muncul di papan lowongan. Dengan tingkat retensi satu tahun sebesar 96% dari 1.450 penempatan yang telah diselesaikan, model ini dirancang untuk pasar di mana satu perekrutan gagal atau satu kuartal yang hilang lebih mahal daripada biaya pencarian itu sendiri.
Bagi organisasi yang bersaing memperebutkan kepemimpinan di bidang rantai dingin, rantai pasok, dan distribusi di pasar logistik Bali yang terkendala dan semakin kompleks, bicarakan dengan tim Executive Search kami tentang bagaimana kami mengidentifikasi dan mengamankan para pemimpin operasional yang tidak mampu kehilangan pasar ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa gaji rata-rata Direktur Rantai Pasok di Denpasar?
Seorang Direktur Rantai Pasok yang mengawasi operasi logistik wilayah Bali menerima kompensasi IDR 35–55 juta per bulan, setara sekitar USD 2.200–3.400. Perusahaan logistik pihak ketiga multinasional dan perusahaan yang melayani rantai pasok pariwisata membayar di kisaran atas. Direktur logistik sektor pariwisata menerima premium 15–20% dibandingkan peran setara di logistik ritel karena kombinasi keahlian logistik dan pengetahuan industri perhotelan yang dibutuhkan. Angka-angka ini tetap 25–35% di bawah Surabaya dan 40–60% di bawah Jakarta—yang merupakan tantangan struktural utama dalam Pencarian Eksekutif di sektor logistik Denpasar.
Mengapa begitu sulit merekrut talenta rantai dingin di Bali?
Tiga faktor berkonvergensi. Pertama, infrastruktur rantai dingin Bali secara historis kurang berkembang—sehingga hanya sedikit profesional yang membangun karier lokal di logistik berpendingin. Kedua, 75–80% Manajer Operasi Rantai Dingin yang memenuhi syarat adalah kandidat pasif—sedang bekerja dan tidak merespons iklan lowongan. Ketiga, kandidat dengan sertifikasi HACCP dan pengalaman refrigerasi amonia mengalami tingkat pengangguran nyaris nol secara nasional—sehingga biasanya menerima dua hingga tiga tawaran bersaing sekaligus. Hasilnya adalah pasar di mana identifikasi langsung dan keterlibatan cepat menjadi prasyarat keberhasilan setiap pencarian.
Bagaimana sektor logistik Denpasar dibandingkan Surabaya dalam hal peluang karier?
Surabaya menawarkan gaji pokok lebih tinggi, klaster logistik lebih besar di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak, serta peluang kemajuan karier yang lebih luas berkat kepadatan pemberi kerja yang lebih tinggi. Denpasar bersaing melalui faktor kualitas hidup dan mempertahankan profesional yang memiliki ikatan keluarga di Bali atau yang menginginkan migrasi gaya hidup dari Jawa. Untuk peran khusus dalam manajemen rantai pasok berbasis pariwisata—seperti pengadaan hotel dan logistik layanan makanan mudah rusak—Denpasar menawarkan spesialisasi yang tidak mudah direplikasi oleh Surabaya maupun Jakarta. Kandidat senior yang mempertimbangkan kedua pasar ini biasanya menimbang proposisi gaya hidup secara keseluruhan di samping kompensasi.
Apa dampak Zona Emisi Rendah Denpasar terhadap rekrutmen logistik?
Ekspansi LEZ yang dijadwalkan pada 2026 akan membatasi kendaraan komersial diesel di atas 3,5 ton dari pusat Denpasar selama jam siang. Ini akan menciptakan permintaan langsung terhadap manajer armada yang berpengalaman dalam integrasi kendaraan listrik, kemampuan perencanaan distribusi malam hari, serta pemahaman logistik infrastruktur pengisian daya EV. Penetrasi truk listrik komersial di Bali saat ini kurang dari 1%—artinya keterampilan yang dibutuhkan benar-benar baru di pasar ini. Pemberi kerja yang mulai merekrut manajer armada berbasis EV sebelum regulasi berlaku akan memiliki keunggulan substansial atas mereka yang baru bereaksi setelah penegakan dimulai.
Bagaimana pemberi kerja bisa menjangkau kandidat logistik pasif di Denpasar?
Lowongan pekerjaan hanya menjangkau maksimal 20–25% kandidat yang memenuhi syarat untuk peran logistik senior di Denpasar. Sisanya 75–80%—terutama di manajemen rantai dingin dan rantai pasok pariwisata—adalah kandidat pasif yang hanya akan mempertimbangkan peluang baru jika dihampiri langsung dengan proposisi peran yang menarik. Metodologi Talent Mapping KiTalent menggunakan identifikasi berbasis AI untuk secara sistematis menemukan dan melibatkan para profesional ini—menghadirkan daftar pendek kandidat siap wawancara dalam 7–10 hari—keunggulan kritis di pasar di mana kandidat finalis rutin menerima counter-offer sebelum proses pencarian konvensional selesai.
Apa risiko terbesar bagi sektor logistik grosir Denpasar pada 2026?
Risiko operasional paling akut adalah ketergantungan pada satu jalur tunggal: koridor feri Gilimanuk–Ketapang—yang dilalui sekitar 70% barang asal Jawa—dan mengalami penundaan 6–12 jam selama periode puncak tanpa rute alternatif untuk kendaraan berat yang tersedia sebelum 2030 paling cepat. Risiko talenta paling akut adalah kesenjangan yang terus melebar antara investasi infrastruktur—termasuk ekspansi Pelabuhan Benoa, fasilitas cold-storage baru, dan pertumbuhan e-commerce—dengan tenaga kerja yang memenuhi syarat untuk mengoperasikan infrastruktur tersebut. Setiap fasilitas baru meningkatkan permintaan terhadap kumpulan kandidat yang tidak tumbuh secara proporsional.